Minggu, 15 Desember 2019

Kesadaran Literasi Anak Usia Dini

Pernah dimuat di https://zedutopia.wordpress.com/2019/10/30/eksplorasi-sensori-awal-kesadaran-literasi/



EKSPLORASI SENSORI AWAL KESADARAN LITERASI

Rutinitas membaca buku sejak kecil merupakan salah satu kunci membangun kemampuan dan keterampilan membaca buku yang efektif. Sejatinya anak yang biasa membaca akan memiliki kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif yang baik.
Lalu darimanakah kemampuan membaca ini terbangun pada awalnya. Banyak dari orangtua tidak menyadari bahwa kemampuan membaca diawali dari kemampuan mengenal dan membedakan beragam hal. Kemampuan mengenal dan membedakan ini merupakan proses yang berjalan karena adanya sensori dan fungsinya yang Tuhan karuniakan pada manusia. Dengan kemampuan alat indera, pada masa usia dininya anak manusia belajar mengenal benda-benda konkrit di sekitarnya dan membangun pengetahuannya, tahap demi tahap. Tidak mengherankan anak yang relatif memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk mencoba, meraba, mendapat stimulasi penglihatan dan pendengaran serta penciuman yang luas, cenderung memilki kosakata yang kaya.

Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Maria Montessori, “What the hand does, the mind remembers.” Ini juga menguatkan fakta bahwa kegiatan-kegiatan bantu diri yang dilakukan sejak kecil mempengaruhi memiliki pengaruh akan kemampuan bahasa dan logika anak, karena anak mengenal banyak kosa kata terkait barang-barang dan juga rangkaian aktifitas yang dilakukan dan terjadi disekitarnya.  Lebih jauh lagi bahkan Montessori secara lugas menyatakan, “The thing he sees are not just remembered; they form a part of his soul.” Ini menguatkan keyakinan bahwa anak belajar mengembangkan kepribadiannya juga salah satunya dengan cara menguatkan proses-proses dalam keterampilan sensorinya sehingga membangun kepekaan fisik maupun psikologis. Ketika anak melakukan eksplorasi dalam fungsi sensoriya (baca: dengan pendampingan orang dewasa sebagai fasilitator), maka anak secara tidak langsung membangun pemaknaan dalam pikirannya, dimana pemaknaan ini menjadi modal saat anak mulai belajar keterampilan membaca itu sendiri.
Sederhananya sebagai contoh, ketika anak sudah mengetahui apel dengan seluruh karakteristiknya termasuk dengan proses memakan buah tersebut maka mudah bagi anak untuk mengingat bentuk huruf “a” saat simbol tersebut diasosiasikan dengan buah apel. Atau ketika anak ditunjukkan kata “robot” setelah sebelumnya bermain secara intens dengan robot, maka kata tersebut akan melekat dalam pikirannya karena mudah baginya untuk menyandingkan kata tersebut dengan bentuk asli yang sudah dikenali dan diketahuinya dengan baik.
Proses dalam eksplorasi sensori memberikan dampak pada perkembangan neuron dalam system saraf manusia. Neuron manusia memiliki serabut pendek yang disebut aksis dan serabut panjang yang disebut dendrit yang kemudian bertemu dan membentuk jembatan yang disebut sinaps-sinaps, dimana ini terjadi karena meningkatnya informasi dan pengalaman sensori yang didapat. Dalam prosesnya selama masa periode sensitif anak, sinapsis yang tidak difungsikan  akan terpangkas (Diamond & Hobson, 1998). Oleh karenanya, penting sekali untuk mengembangkan pengalaman sensori anak.

Pengembangan sensori dan fungsinya pada diri seorang anak dapat meningkatkan kesadaran literasinya, dimana salah satu hal yang mempengaruhi kesadaran literasi anak adalah terbangunnya minat yang baik terhadap sesuatu. Untuk itu, maka orangtua sebagai fasilitator anak dalam mengenal dunia dan sekitarnya perlu mempelajari kesukaan anak dan menyediakan pengalaman yang optimal bagi anak. Sebagai contoh jika anak terlihat menyukai kegiatan bermain masak-masakan, maka biasakan untuk melibatkan anak mulai dari merencanakan jenis masakan, pergi belanja hingga proses membuat masakan tersebut dengan cara yang sesuai dengan usia anak. Pada anak usia 1,5 hingga 3 tahun, dapat dimulai dengan memberikan pilihan buah, sayur dan ikan atau sumber protein lainnya sambil disebutkan namanya dan mengundang anak untuk ikut melihat proses pembuatannya lalu mencicipi hingga menghabiskan makanan sesuai porsinya; bisa juga dengan mengajak anak belanja beberapa keperluan makanan.
Pada anak usia 3-6 tahun, tergantung kemampuan dasarnya, kegiatan yang dapat dilakukan yaitu membuat daftar belanjaan dengan menggambar, lalu membuat tahapan memasak. Dari kegiatan ini anak mulai dapat diajak untuk melihat beragam buku resep yang bergambar dan lain-lainnya. Intinya mulailah dari yang disukai anak dan lakukan banyak kegiatan yang anak dapat dilibatkan sehingga anak melakukannya sendiri.
Anak dengan potensi natural yang ada dalam dirinya, akan cenderung untuk mengeksplorasi banyak hal dan menyukai proses mencoba-coba hingga bisa. Oleh karenanya, berikan kebebasan bagi anak untuk menemukan dan melakukan proses eksplorasi sensori pada masa sensitifnya sehingga anak membentuk banyak keterampilan dasar untuk membaca seperti konsentrasi, koordinasi mata dan tangan, serta kemampuan mengenal dan membedakan serta menghubungkan beberapa hal. Kuatnya penekanan terhadap optimalisasi fungsi sensori ini jelas sekali ditegaskan oleh Dr. Maria Montessori, “He does it with his hands, by experience, first in play and then through work. The hands are the instruments of man’s intelligence.”
Oleh karenanya jika anda memiliki anak usia dini mulai dari usia 6 bulan hingga 6 tahun, perbanyaklah kesempatan bagi anak untuk mengoptimalkan kemampuan sensorinya sehingga dapat berdampak signifkan pada kemampuan intelegensinya, termasuk area bahasa, terutama dalam hal membaca.

Yuniar, S. Psi.
@Almamater Fakultas Psikologi UI Angkatan ‘96
@Kepala TK Insan Cendekia Madan 2019-2020
@Mahasiswa Program Diploma Montessori dan Enterpreneurship Montessori Haus Asia
@Praktisi Pendidikan Anak sejak tahun 2001.

Selasa, 01 Februari 2011

Selingan Indah Keluarga Utuh

Jaman makin tidak bersahabat pada mereka yang bersahabat dengan dunia. Kehidupan makin diwarnai warna yang tidak lazim.ada yang jadi gila harta, gila kedudukan, gila wanita, dan terakhir yang mulai marak gila mencari cinta manusia. Dulu saat remaja kita berpikir tentang love at the first sight. Rasanya indah sekali, buat kita termangu-mangu, tersenyum-senyum sendiri, bersemangat pergi ke sekolah, riang tidak jelas, bernyanyi-nyanyi lagu romantis, jadi puitis, dan hal-hal sedih pun terjadi menangis, meringis, kadang-kadang jadi manis depresif plus pusing yang diiringi dengan mual serta keringat dingin (bukan hamil lho...), hanya karena mereka yang telah membangkitkan hasrat kita pada masa itu tak berlaku selayaknya kita harapkan.

Lalu waktupun berjalan, bertemu teman, sahabat, kecengan, dan terakhir bertemu pasangan. Hidup pun dimulai, yang sesungguhnya....pernikahan adalah sebuah kata yang kata beberapa orang memiliki definisi sebagai berikut...
PENDERITAAN YANG DIPILIH DENGAN SADAR DAN SUKARELA...hehehe...kata beberapa orang lho.Tapi saya menolaknya
.
Pernikahan adalah perahu kebahagiaan yang kita pilih dengan ombak di hadapannya serta membutuhkan kemauan dan kerelaan di dalamnya untuk terus mendayung dan bertahan saat badai menerjang...(u/ yg agama Islam, ternyata ibadahnya orang yang menikah memiliki nilai 70x lipat dari mereka yang belum menikah).

Awalnya ringan menyatakannya, tapi ternyata tak seringan itu menjalankannya. Pernikahan saya adalah sebuah kehidupan yang dinamis, seperti roller coaster...ada tawa, rasa senang, bahagia, tapi juga tak jarang kecemasan menyapa, ketakutan menyeruak, bahkan jeritan derita muncul tanpa rencana. Semua itu sudah sunatullah yang harus dijalani.

Terkait jaman yang sudah mulai tak ramah, pernikahan sekarang tidak lagi dapat aman dari kata SELINGKUH. Lingkungan tempat saya berjalan, kemarin, sekarang, dan yang akan datang akan terus menyajikan itu di depan mata. Sungguh perih melihat seorang istri atau suami sudah tidak lagi memikirkan suami atau istri dan anak-anak mereka, bahkan nyaris Tuhan pun hilang dari pandangan saat seseorang terjerumus di dalamnya. Kehadiran orang lain seakan menjadi obat akan derita yang mereka pahami, bahkan mereka hadir tanpa cela. Perhatian sesaat orang lain bahkan telah menghapus segala memori hati tentang kebaikan mereka yang telah mengasihinya. Adakah cinta datang pada mereka yang telah mengkhianati sebuah janji yang terucap di hadapan Tuhan. Itukah cinta? Mungkin ada yang tidak merasakan cinta karena hanya nafsu biologis yang terpuaskan. Tapi bagaimana dengan mereka yang mabuk dengan merasa ada cinta di dalamnya. Seperti kembali ke dunia remaja, kadang itu yang membuat saya tidak habis pikir...ternyata manusia benar-benar makhluk yang lemah. Seakan tak mampu lagi berpikir dengan baik, kedewasaaan seseorang segera terenggut oleh atamorgana mimpi akan rasa cinta yang mungkin masih harus dipertanyakan...benarkah itu cinta? Hebatnya lagi, kadangkala ada yang tak mampu sadar diri dari keterpurukan itu...melawan terus keadaan yang tak perlu dilawan, justru tak melawan yang harus dilawan. Berguguranlah keluarga bahagia, anak yang terabaikan kebutuhan batinnya, ketiadaan sosok ibu atau ayah yang menjadi tutor kehidupan. Sesaat semua seperti melayang...lalu saatnya tiba datang kesadaran (yang memang sadar yah...). Segera diselamatkan Allah karena mau menyelamatkan imannya sendiri (mgk juga terbantu doa mereka yang mengasihinya). Beranjak semua menuju keutuhan jiwa dan mengembalikan juga keutuhan keluarga. Mereka yang tersakiti segera menyembuhkan diri dan memaafkan.
Kata temanku yang berpengalaman masalah ini, selingan ini terjadi karena memang di luar sana ada mereka yang tak punya integritas hidup, ada mereka yang tak mampu berdiri tegar menghadapi hidup, dan seringkali itu semua ada pada perempuan. kenapa yah? Perempuan katanya makhluk yang lemah tapi ternyata dalam mentalnya dan jiwanya (saya sedang berada di luar lingkaran gender manapun, tapi tetep perempuan lho...)
mereka lebih kuat dan lebih tahan menghadapi perihnya hidup. Mungkin karena itulah surga ada di telapak kaki Ibu...Tapi kenapa perempuan sering disalahkan sebagai penyebab perselingkuhan? (bagi saya, laki-laki juga punya peran, cuma katanya juga mana ada kucing nolak ikan, kalo lagi laper, yang busuk juga diembat, hehehe...). Saya melihat kekuatan mental dan jiwa perempuan itu juga yang menjadi kekuatan bagi dia saat dia merasa ada peluang untuk meraih kebahagiaan yang dia pikir itu yang terbaik baginya. Sehingga berlanjut dari keyakinan ini diapun rela menyajikan dirinya sebagai ikan terbaik bagi kucing yang sedang kelaparan dan kedinginan, hehehe...topik nya jadi ikan dan kucing nih...

Nah, karenanya memang perempuan itu menjadi tiang negara...kalau perempuannya rusak, rusaklah negara...sebab dari rahim perempuan,anak bangsa lahir.Jadi jika rahimnya (baca: jiwa dan kemuliaan perempuan)tak terjaga dengan baik, bisa dibayangkan kan anak bangsa apa yang kan tampil. Itulah kenapa saya berpendapat bahwa dalam perselingkuhan, perempuan memegang peranan penting untuk mau melanjutkan dorongan terlarang itu atau tidak.

Nah untuk mereka yang sudah terlanjur menyakiti dan disakiti, udah deh saling memaafkan saja...karena seringkali itu terjadi bukan karena perasaan yang sesungguhnya tapi lebih karena ada saja yang iseng, kurang kerjaan, kurang perhatian (yuk kita perhatiin lebih lagi pasangan kita), kurang iman, kurang moral, dan kadang-kadang memang ada saja yang kurang ajar (ups...maaf yah...). Jadi tidak selalu penyebab perselingkuhan itu adalah karena kekurangan yang ada pada pasangan sesungguhnya, bisa jadi karena ketidakdewasaan dan kelemahan iman seseorang menghadapi ujian hidup. J

adi, karena tidak ada manusia yang sempurna, buat yang keluarganya kena musibah perselingkuhan segera menyatu kembali, pinggirkan mereka yang telah meretakkan, saling menerima, memaafkan, dan jadikan keindahan dari keretakan yang telah terjadi. Insya Allah setelahnya kita jadi manusia yang lebih baik. Mari kita wujudkan keluarga utuh dari selingan indah yang terlarang...lalu biarkan Tuhan bekerja untuk kita karena kita telah bersedia merubah nasib kita.

(teruntuk suamiku...terima kasih ya Allah...terima kasih sayang...untuk kebersediaanmu dan atas kekuatan hatimu untuk meraih cinta Illahi bersamaku selama 7 tahun ini. Bersama ridho Allah kita bisa singkirkan kerikil-kerikil kehidupan...insya Allah sampai ajal menjemput;
PS: hindari perselingkuhan ya sayang...berlaku juga untukku tentunya...*peace*:)

Rabu, 19 Mei 2010

Ya dan Tidak...bagaimana menjawabnya?

Segala pertanyaan di hadapan kita sering membuat hati ataupun mulut kita harus menjawab ya atau tidak.Kadang saat mulut tak dapat bicara, mata kita bicara. Ya atau tidak...bagaimana kita harus menjawabnya...sungguh membutuhkan keteguhan hati, kemurnian jiwa, kejernihan pikiran, dan kebijakan pandangan saat kita menghadapi pertanyaan. Tak sekedar menjawab, karena jawaban kita mencerminkan kita apa adanya. Tak bisa mengelak saat kondisi itu terjadi selihai apapun kita menjawab, hati yang suci mampu mengenali isi hati. Lalu bagaimana saat kita dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tidak menyenangkan, tidak mengenakkan, bahkan cenderung meresahkan. MAmpukah kita berkata TIDAK, atau justru kita terpaksa dan dipaksa untuk berkata YA. Bukan main, gelisahnya hati kita saat tidak sesuai nurani, dan bukan main leganya kita saat jawaban itu adalah KITA...hati kita, nurani kita, jiwa kita, dan pancaran kemurnian nurani kita.
Kita sering terjebak pada keputusan yang dibuat untuk menyenangkan banyak orang, tanpa memperhitungkan sebagian kecil orang.Hanya sedikit orang yang mampu membuat keputusan yang benar, jawaban yang benar, dan anggukan atau gelengan yang benar, meski tidak selamanya menjadi kesukaan orang atau menjawab kesenangan banyak orang. Bukan juga merupakan pilihan yang gampang saat melakukannya karena menyadari resiko yang ditempuhnya.
Adakah kita mampu menjawab tanpa rasa berat...jika ya sungguh mulia...karena benar atau salah sebuah jawaban akan memberi dampak, baik ataupun buruk. Sungguh mulia mereka yang mampu bertahan dalam keabu-abuan dunia, berdiri tegar menghadapi suka dan tidak sukanya dunia pada mereka dengan keikhlasan...Subhanallah
Jadilah kita harus menggunakan hati, iman, dan pikiran, saat menjawab YA ataupun TIDAK. Sungguh hanya Allah SWT yang mampu menyelamatkan kita dari bencana dunia...berserahlah karena DIA tidak pernah lelah menemani kita yang mudah lengah....

Rabu, 05 Mei 2010

Topeng...

Subhanallah...Allah Maha Suci...rasanya makin miris melihat topeng-topeng di sekitar kita...apa ini takdir nya manusia..bertopeng dan akhirnya terus keasyikan milih berbagai topeng yang dirasa keren, asyik, bermanfaat, menaikkan kualitas, menurunkan harga diri...masya Allah...tapi bingung juga kalau tidak pakai topeng bukan manusia namanya...nah lho...gimana nih...milih yang baik tapi tidak tulus sama saja.ga pakai topeng, tulus, tapi tidak disukai orang.hehehe...ternyata memelihara fitrah baik itu sulit juga yah...selalu saja ada godaanya.yuk kita lawan godaan dan jadikan kemurnian nurani menjadi penyemangat konsistensi langkah kita.topeng...ah tidak perlu rasanya...Rasullullah tidak mengajarkan hal itu.semua harus dilatih tuk datang dari nurani yang bersih...Insya Allah kita bisa.amin...

Minggu, 18 April 2010

sertifikasi...mana yang dipentingin kualitasnya atau uangnya?

Awalnya saya suka dengan perhatian pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru dengan menstimulasi kualitasnya...tentu saja kualitas akan diikuti dampak lainnya...kepuasan jiwa lalu dibumbui dengan penyedap rasa uang. Tidak dipungkiri uang menjadi godaan. kalau dirasa terlalu vulgar dengan istilah uang, kita pakai saja kompensasi agar terasa halus sedikit...tapi dapat dipahami konteksnya dalam hal ini. Seiring jalan hampir semua guru mengaharapkan sertifikasi, karena itu mereka berlomba ikut seminar, training, mau ditugasin apapun demi mendapatkan keterangan tertulis tentang keterlibatan mereka kegiatan tersebut sehingga rekam kerjanya penuh dengan training...hingga loloslah seleksi sertifikasi.penerapan di lapangan?efeknya tuk murid?dampaknya terhadap kemajuan siswa?profesionalisme sebagai guru?wah kayaknya itu belakangan deh, atau minimal nanti saat ada supervisi barulah kita tampilkan.hasilnya?asal masuk kelas, pengajaran tidak berdampak signifikan, siswa merasa diabaikan kebutuhannya, jadi kurang hormat sama guru,orangtua juga melihat hasilnya seperti tidak ada kemajuan pada anak (kalau yang orangtuanya perhatian, yang tidak, kasihan betul si anak...hiks...) dan yang terakhir sedihnya guru merasa harusnya ada kenaikan kompensasi dalam banyak aspek (walah...sedih yah). Tapi balik lagi, apakah ini salah guru semata?rasanya tidak ya...kalau ada celah dan kesempatan ditambah manusia gudangnya salah cocok sekali rasanya kerusakan yang muncul dengan variabel penyebab. Itulah kenapa, bekerja sebagai guru harus menjadi panggilan hati...jadi masalah ada atau tidak ada sertifikasi bukan halangan untuk memberi yang terbaik pada siswa. Meski sangat disayangkan juga bahwa kadangkala yayasan atau institusi tempat guru excellent bertengger kurang sensitif sama kebutuhan dan prestasi guru, sehingga manusiawi juga kalau kadangkala godaan datang. tapi balik lagi sama keimanan dan keihklasan dari si guru. keyakinan bahwa segala kebaikan akan berbuah kebaikan juga semestinya menjadi dasar nurani seseorang bekerja dan berkontribusi bagi diri dan lingkungannya...Jadi...yuk pakai nurani kita dalam hidup ini. sekarang mau yang mana, sertifikat dengan kualitas yang sesuai dan signifikansi kontribusinya pda siswa atau sertifikat demi uangnya?tanyakan pada nurani kita

Selasa, 15 Desember 2009

bazaar

kata Pak Fuad Muftie, dengan mengikuti bazaar kita bisa belajar dan ternyata benar. Saya beru saja melewati bazaar pertama saya dan ternyata banyak sekali wacana, sharing, dan ilmu yang saya peroleh.Meski secara material rugi bandar...tapi secara immaterial saya merasa fresh dan menemukan kesukaan pada dunia bisnis real...tetap senyum, semangat, terus belajar, serta sabar dan syukur, Insya Allah, Allah SWT selalu memberikan rahmatNYA.Amin.

Sabtu, 12 Desember 2009

Classroom Management Style

Sebagai guru kita tidak terlepas dari kecenderungan kepribadian kita sendiri dalam mengajar. Meski demikian, selayaknya kita memberikan yang terbaik bagi anak didik kita demi terciptanya generasi yang utuh, berkepribadian luhur, dan memiliki jiwa tuk selalu memperbaiki diri. Kita sendiri sebagai orang dewasa merupakan produk dari penerapan pola asuh orang tua kita di masa kanak-kanak sampai dengan remaja. Dengan demikian banyak hal dalam perilaku kehidupan kita merupakan cermin dari pola pengasuhan ayah dan ibu kita. Oleh karenanya penting bagi kita tuk mengenali kelebihan dan kekurangan sebagai akibat dari pola asuh orangtua kita terhadap gaya kita mengajar atau pun memanage kelas.Seyogyanya sebagai guru kita harus dapat bersikap seobjektif dan akomodatif dalam memfasilitasi beragam model anak didik di dalam kelas. Atas dasar tujuan pengenalan keperibadian untuk melihat kecenderungan terhadap gaya mengajar tersebut, saya ingin sedikit berbagi informasi mengenai gaya mengajar yang di pengaruhi oleh pola asuh orangtua kita. Semoga dapat diambil manfaatnya bagi para pendidik...amin.


Yang Manakah Anda…?

Authoritarian

  • Diadaptasi dari tipe pengasuhan Authoritarian

  • Tidak ada diskusi, satu arah hanya dari guru ----anak tidak punya kesempatan mengembangkan kemampuan berkomunikasi

  • Disiplin, ada aturan dan kontrol yang cukup ketat

  • Kadangkala tampak tidak perduli pada kebutuhan anak



Authoritative

  • Diadaptsi dari tipe pengasuhan Authoritative

  • Anak diberi kesempatan berdiskusi, ada tanya jawab, ada kesempatan mengembangkan kemampuan berkomunikasi

  • Ada aturan namun anak tetap didorong untuk mandiri

  • Anak dapat menginterupsi guru di kelas

  • Biasanya banyak memberi tugas yang sifatnya project



Laissez Faire


  • Diadaptasi dari pengasuhan Indulgent

  • Memiliki batasan atau kontrol namun tidak menerapkan secara & inkonsisten --- perasaan anak lebih diutamakan daripada kontrol kelas untuk tujuan akademis

  • Guru sulit membedakan kehidupan pribadi dengan sikap profesional

  • Anak tidak punya kontrol diri dan cenderung tidak berprestasi

  • Anak tidak belajar perilaku sosial yang dapat diterima secara umum


Indifferent

  • Diadaptasi dari pengasuhan Neglectful

  • Tidak terlibat dengan anak

  • Tidak mau menerapkan aturan yang jelas pada anak

  • Persiapan kelas bukan hal yang penting---cenderung menggunakan lesson plan yang sama dari tahun ke tahun

  • Kebutuhan anak tidak terperhatikan, anak merasa terabaikan

  • Jika ada waktu sisa anak dibiarkan melakukan apapun yang mereka suka, tanpa arahan


Temukan gaya orisinal sendiri

Fokus pada tujuan anda sebagai guru

GOOD LUCK

Classroom Management Style

Sebagai guru kita tidak terlepas dari kecenderungan kepribadian kita sendiri dalam mengajar. Meski demikian, selayaknya kita memberikan yang terbaik bagi anak didik kita demi terciptanya generasi yang utuh, berkepribadian luhur, dan memiliki jiwa tuk selalu memperbaiki diri. Kita sendiri sebagai orang dewasa merupakan produk dari penerapan pola asuh orang tua kita di masa kanak-kanak sampai dengan remaja. Dengan demikian banyak hal dalam perilaku kehidupan kita merupakan cermin dari pola pengasuhan ayah dan ibu kita. Oleh karenanya penting bagi kita tuk mengenali kelebihan dan kekurangan sebagai akibat dari pola asuh orangtua kita terhadap gaya kita mengajar atau pun memanage kelas.Seyogyanya sebagai guru kita harus dapat bersikap seobjektif dan akomodatif dalam memfasilitasi beragam model anak didik di dalam kelas. Atas dasar tujuan pengenalan keperibadian untuk melihat kecenderungan terhadap gaya mengajar tersebut, saya ingin sedikit berbagi informasi mengenai gaya mengajar yang di pengaruhi oleh pola asuh orangtua kita. Semoga dapat diambil manfaatnya bagi para pendidik...amin.


Yang Manakah Anda…?

Authoritarian


Diadaptasi dari tipe pengasuhan Authoritarian

n Tidak ada diskusi, satu arah hanya dari guru ----anak tidak punya kesempatan mengembangkan kemampuan berkomunikasi

n Disiplin, ada aturan dan kontrol yang cukup ketat

n Kadangkala tampak tidak perduli pada kebutuhan anak



Authoritative

n Diadaptsi dari tipe pengasuhan Authoritative

n Anak diberi kesempatan berdiskusi, ada tanya jawab, ada kesempatan mengembangkan kemampuan berkomunikasi

n Ada aturan namun anak tetap didorong untuk mandiri

n Anak dapat menginterupsi guru di kelas

n Biasanya banyak memberi tugas yang sifatnya project



Laissez Faire


n Diadaptasi dari pengasuhan Indulgent

n Memiliki batasan atau kontrol namun tidak menerapkan secara & inkonsisten --- perasaan anak lebih diutamakan daripada kontrol kelas untuk tujuan akademis

n Guru sulit membedakan kehidupan pribadi dengan sikap profesional

n Anak tidak punya kontrol diri dan cenderung tidak berprestasi

n Anak tidak belajar perilaku sosial yang dapat diterima secara umum



Indifferent

n Diadaptasi dari pengasuhan Neglectful

n Tidak terlibat dengan anak

n Tidak mau menerapkan aturan yang jelas pada anak

n Persiapan kelas bukan hal yang penting---cenderung menggunakan lesson plan yang sama dari tahun ke tahun

n Kebutuhan anak tidak terperhatikan, anak merasa terabaikan

n Jika ada waktu sisa anak dibiarkan melakukan apapun yang mereka suka, tanpa arahan


Temukan gaya orisinal sendiri

Fokus pada tujuan anda sebagai guru

GOOD LUCK

Teacher: Work Of Heart

Classroom Management Style

Sebagai guru kita tidak terlepas dari kecenderungan kepribadian kita sendiri dalam mengajar. Meski demikian, selayaknya kita memberikan yang terbaik bagi anak didik kita demi terciptanya generasi yang utuh, berkepribadian luhur, dan memiliki jiwa tuk selalu memperbaiki diri. Kita sendiri sebagai orang dewasa merupakan produk dari penerapan pola asuh orang tua kita di masa kanak-kanak sampai dengan remaja. Dengan demikian banyak hal dalam perilaku kehidupan kita merupakan cermin dari pola pengasuhan ayah dan ibu kita. Oleh karenanya penting bagi kita tuk mengenali kelebihan dan kekurangan sebagai akibat dari pola asuh orangtua kita terhadap gaya kita mengajar atau pun memanage kelas.Seyogyanya sebagai guru kita harus dapat bersikap seobjektif dan akomodatif dalam memfasilitasi beragam model anak didik di dalam kelas. Atas dasar tujuan pengenalan keperibadian untuk melihat kecenderungan terhadap gaya mengajar tersebut, saya ingin sedikit berbagi informasi mengenai gaya mengajar yang di pengaruhi oleh pola asuh orangtua kita. Semoga dapat diambil manfaatnya bagi para pendidik...amin.

Yang Manakah Anda…?

Authoritarian


Diadaptasi dari tipe pengasuhan Authoritarian

n Tidak ada diskusi, satu arah hanya dari guru ----anak tidak punya kesempatan mengembangkan kemampuan berkomunikasi

n Disiplin, ada aturan dan kontrol yang cukup ketat

n Kadangkala tampak tidak perduli pada kebutuhan anak

Authoritative

n Diadaptsi dari tipe pengasuhan Authoritative

n Anak diberi kesempatan berdiskusi, ada tanya jawab, ada kesempatan mengembangkan kemampuan berkomunikasi

n Ada aturan namun anak tetap didorong untuk mandiri

n Anak dapat menginterupsi guru di kelas

n Biasanya banyak memberi tugas yang sifatnya project

L

n Diadaptasi dari pengasuhan Indulgent

n Memiliki batasan atau kontrol namun tidak menerapkan secara & inkonsisten --- perasaan anak lebih diutamakan daripada kontrol kelas untuk tujuan akademis

n Guru sulit membedakan kehidupan pribadi dengan sikap profesional

n Anak tidak punya kontrol diri dan cenderung tidak berprestasi

n Anak tidak belajar perilaku sosial yang dapat diterima secara umum

Indifferent

n Diadaptasi dari pengasuhan Neglectful

n Tidak terlibat dengan anak

n Tidak mau menerapkan aturan yang jelas pada anak

n Persiapan kelas bukan hal yang penting---cenderung menggunakan lesson plan yang sama dari tahun ke tahun

n Kebutuhan anak tidak terperhatikan, anak merasa terabaikan

n Jika ada waktu sisa anak dibiarkan melakukan apapun yang mereka suka, tanpa arahan

Temukan gaya orisinal sendiri

Fokus pada tujuan anda sebagai guru

GOOD LUCK

Jumat, 11 Desember 2009

Save our earth, save our children

Hi Mom, why don't we start to use clothes diapers as diapers for our babies...It's healthier, cleaner, and cheaper (cause we don't have to spent much money to buy diapers all the time and also because we can use it to our next child...if we plan to have more than one child...).But, the critical point of cloth diapers is we save our earth by using reusable and washable diapers, and not using the disposable diapers that cannot be recycled....So, what are you waiting for...Go buy and get your clothes diapers in many stores or agent...By saving our earth we also save our children future...

Kamis, 10 Desember 2009

Classroom Management Style

Halo ibu dan bapak guru...ini adalah sedikit review dan refleksi bagi kita semua tuk lebih meningkatkan kualitas diri sebagai pendidik bagi murid-murid kita tersayang...Semoga bermanfaat

Yang manakah anda...?

Authoritarian
 Diadaptasi dari tipe pengasuhan Authoritarian
 Tidak ada diskusi, satu arah hanya dari guru ----anak tidak punya kesempatan mengembangkan kemampuan berkomunikasi
 Disiplin, ada aturan dan kontrol yang cukup ketat
 Kadangkala tampak tidak perduli pada kebutuhan anak

Authoritative
 Diadaptsi dari tipe pengasuhan Authoritative
 Anak diberi kesempatan berdiskusi, ada tanya jawab, ada kesempatan mengembangkan kemampuan berkomunikasi
 Ada aturan namun anak tetap didorong untuk mandiri
 Anak dapat menginterupsi guru di kelas
 Biasanya banyak memberi tugas yang sifatnya project

Laissez Faire
 Diadaptasi dari pengasuhan Indulgent
 Memiliki batasan atau kontrol namun tidak menerapkan secara & inkonsisten --- perasaan anak lebih diutamakan daripada kontrol kelas untuk tujuan akademis
 Guru sulit membedakan kehidupan pribadi dengan sikap profesional
 Anak tidak punya kontrol diri dan cenderung tidak berprestasi
 Anak tidak belajar perilaku sosial yang dapat diterima secara umum

Indifferent
 Diadaptasi dari pengasuhan Neglectful
 Tidak terlibat dengan anak
 Tidak mau menerapkan aturan yang jelas pada anak
 Persiapan kelas bukan hal yang penting---cenderung menggunakan lesson plan yang sama dari tahun ke tahun
 Kebutuhan anak tidak terperhatikan, anak merasa terabaikan
 Jika ada waktu sisa anak dibiarkan melakukan apapun yang mereka suka, tanpa arahan

Temukan gaya orisinal sendiri
Fokus pada tujuan anda sebagai guru

GOOD LUCK

Strike!

Kesadaran Literasi Anak Usia Dini

Pernah dimuat di https://zedutopia.wordpress.com/2019/10/30/eksplorasi-sensori-awal-kesadaran-literasi/ EKSPLORASI SENSORI AWAL KESADA...